pizzakill

High N’ Dry

Four Gangster In Paris Van Java

Posted by dasarwanita on 4 Februari 2008

Seluruh warga Bandung sudah mengetahui keberadaan senjata berkuda besi yang tak hanya di malam bulan purnama siap memangsa mangsaannya. ya….sudah bukan rahasia umum lagi kalo masyarakat Bandung sudah akrab, mendengar, melihat macam : MOONRAKER, XTC, BRIGEZ, GBR. Gangster yang mengancam kebebasan warga Bandung ini seakan tak habis-habisnya menjadi bahan tulisan di surat kabar bangsa ini.”MOONRAKER” yang lahir pada tahun 1978. Kelompok ini mungkin menjadi bapak dari semua gangster di Bandung, dirajut oleh tujuh orang pemuda yang hobi balap. Nama “Moonraker” diambil dari salah satu judul film James Bond yang kondang ketika itu. Awalnya mereka mengusung gambar palu arit di tengah bendera berwarna putih-biru-merah. Namun, karena pemerintah Indonesia saat itu melarang ideologi yang identik komunisme itu, lalu mereka mengganti lambang kebanggaannya dengan gambar kelelawar. Gambar ini mereka adopsi dari lambang “Hell Angel”, sebuah kelompok motor di Amerika Serikat.

Kelompok ini eksis dengan sistem keorganisasiannya yang konsisten. Kepengurusan setiap tahun ada pergantian. Struktur Organisasinya terdiri atas Divisi Balap, Panglima Perang (Paper), dan Tim SWAT (Regu Penyelamat). Anggota pengikut “Moonraker” semakin lama semakin membengkak. Kini tercatat anggotanya mencapai 1.400 orang, tersebar di berbagai wilayah.

Sejak awal Kelompok yang berorientasi di balapan. Hanya saja saat berlangsung kompetisi Road Race piala Djarum Super tahun 90-an terjadi konflik dengan XTC di arena balap dan puncaknya terjadi di tahun 1999, tawuran besar-besaran terjadi. Satu orang meninggal dunia pada peristiwa itu. Dari generasi ke generasi dendam masih mengendap dalam hati mereka.

Masuk ke dalam komunitas ini tidak cuma-cuma. Calon anggota Moonraker, misalkan, tak jarang diwajibkan mengendarai motor tanpa rem dari Lembang hingga Jalan Setibudi Bandung. Jaraknya sekitar 15 kilometer. Kalau tidak disuruh ngebut tanpa rem, anak baru dipaksa berkelahi dengan seniornya. Pendeknya, mereka tampil pada panggung kehidupan sosial dengan menawarkan model-model kekerasan. Diakui atau tidak, itulah pola yang terbentuk melalui berbagai gerakan yang mereka tampilkan. Tindakan kekerasan seperti kebutuhan spritual untuk membentuk identitas kelompoknya.

“XTC” atau Exalt to Coitus yang belakangan telah berganti nama Exalt to Creativity didirikan sekitar tahun 1982. Lebah jadi lambang mereka yang mencerminkan solidaritas antar anggota. Gambar hewan penghasil madu ini dibalut bendera yang berwarna putih-biru muda-biru tua.

Tak hanya “Moonraker” yang menyatakan musuh terhadap XTC. BRIGEZ dan GBR, juga menyatakan permusuhan terhadap XTC. BRIGEZ bahkan yang paling anti terhadap geng yang satu ini, entah apa asal muasalnya namun sampai saat ini “XTC dan “BRIGEZ” menyatakan perang satu sama lain berlomba menjadi Nomer satu dan menjadi RAJA JALANAN.

Geng ini mempunyai Panglima perang yang bertugas untuk mengkoordinir anggotanya saat terjadi tawuran dan perebutan wilayah. Perebutan wilayah merupakan salah satu cara memperluas daerah kekuasaan. Anggota XTC banyak dari lingkungan anak-anak TNI, Polisi. Tak heran apabila terjadi perang, senjata api banyak beredar.

Mereka mendirikan “Sexy Road Indonesia” untuk mewadahi anggota XTC yang melebihi 10.000 orang, tak heran kalau XTC dimusuhi anggota geng lain karena jumlah

anggota yang banyak dan semakin membengkak hari demi hari. Malah ada kelompok yang berusaha memanfaatkan massa XTC untuk kepentingan politik. “Padahal harapan kami, ada ruang untuk berkreatifitas,” ujar Avi Vabio “Pepi” (ketua XTC saat ini). Pepi juga mengaku sering diajak berunjukrasa dengan iming-iming uang. “Kami bahkan pernah terlibat dalam tim sukses Aa Tarmana, kandidat Walikota Bandung, tapi kalah,” ujarnya.

Pada pemilu 2004, partai Demokrat juga meminta massa. Biasanya kami dibayar per kepala, ya lumayan lah..”. Mereka juga mengirim 200 motor pada perayaan ulang tahun Partai Demokrasi Pembaruan di Lapangan Gasibu Bandung. Tidak menutup kemungkinan pada kampanye-kampanye atau unjukrasa itu bertemu dengan geng motor lain. Tapi kalau dalam urusan ini, mereka memilih damai.

Pertengahan 2003, XTC melakukan penyerangan sensasional. Mereka menyerang kantor Kepolisian Wilayah Kota Besar (Polwiltabes) Bandung. Semua anggotanya tumpah ruah mengepung kantor Polwiltabes. Mereka kecewa karena tidak diberi izin pada saat mau mengadakan bakti sosial, akibat ada kesalahpahaman antara polisi dengan panitia. Polisi tak bisa berbuat banyak menghadapi ribuan massa yang memadati Jalan Merdeka sepanjang kurang lebih 3 Kilo Meter. Beberapa orang yang dituduh provokator ditahan di kantor Polwiltabes Bandung.

TAHUN 1980-an juga ditandai kelahiran Brigez dan GBR. Brigez lahir di SMUN 7 Bandung, sesuai dengan namanya Brigade Seven tapi seringkali diplesetkan dengan sebutan Brigade setan atau Brigade Senja. Sejak tahun 80-an geng ini merupakan rival terberat XTC. Awal mula nya hanya kumpul biasa, hanya saja mereka jengah dengan peraturan-peraturan lalulintas, yang mereka inginkan hanya bebas menjalankan motor, tanpa helm, tanpa lampu, apalagi rambu-rambu.

Pihak sekolah SMUN 7 Bandung, tempat bersarangnya Brigez, dulu kewalahan menghadapi mereka. Setiap hari ada saja ulah mereka, mulai malak (meminta uang dengan paksa) teman-teman sekolahnya, hingga mengancam para guru.

Wakil Kepala Sekolah SMUN 7 Bandung Sucipto, pernah diajak berkelahi oleh para anggota geng. Sucipto memang getol memerangi mereka.Ban motornya sering kedapatan bocor atau namanya menjadi mozaik di tembok-tembok sekolah dengan tulisan kasar dan mengejek.

Pada 1999, SMUN 7 melakukan pembersihan terhadap gengster. Spanduk-spanduk anti geng, pembersihan tembok-tembok dari coretan “Brigez” dilakukan dalam tempo singkat. Lalu pihak sekolah memutuskan untuk mengeluarkan siswa yang terlibat geng. Meski demikian, setiap tahun ada saja bibit Brigez yang tumbuh. Dilarang di sekolah, mereka mengeruhkan jalanan. Di jantung kota, di pasar-pasar, di daerah pertokoan, jembatan, di gedung sekolah, gedung pemerintahan, taman kota, dimana-mana di kawasan Bandung pasti terdapat coret-coretan. Medianya bisa tembok, papan, batu, seng atau apapun yang bisa menjadi media tulis.

Sekilas, coretan-coretan itu tidak bermakna apa-apa. Kalau diperhatikan coretan-coretan itu bertuliskan nama-nama geng motor. Yang paling banyak ditemui adalah tulisan Brigez, XTC, M2R dan GBR.

Sepertinya memang sepele. Tapi dari coretan itu bisa terjadi pertumpahan darah. Tulisan nama geng di tembok di wilayah tertentu, menandakan wilayah kekuasaan geng itu. Tulisan nama geng juga berarti kebanggaan bagi geng tersebut.

Masalah muncul jika dalam sebuah dinding terdapat nama salah satu geng, tapi kemudian ada yang mencoret dan diganti dengan nama geng lain. Ini adalah salah satu pemicu terjadinya tawuran antar geng.

Dulu BRIGEZ hanya beranggotakan tidak lebih dari 50 motor. Kini pengikutnya mencapai ribuan motor dan tersebar di berbagai daerah di Jawa Barat. Sistem organisasinya tidak jelas, hanya ada ketua saja yang bertugas mengkoordinir. Lambang kelelawar hitam menjadi simbol dibalut Hitam, putih, merah sebagai bendera kebangsaannya.

Berbeda dengan XTC, Brigez identik dengan sikap anti birokrasi. Mereka menolak bersenggolan dengan lembaga plat merah atau ormas politik. Kalau pun ada anggotanya yang menjadi kader partai, itu lebih bersifat individu dan tidak membawa bendera Brigez.

Bersamaan dengan Brigez, muncul pula Grab on Road (GBR). Yang berbeda, geng ini dilahirkan di lingkungan SMPN 2 Bandung. Mereka tak rikuh kebut-kebutan, sekalipun banyak yang belum pegang surat ijin mengemudi. Kelompok ini mengidentifikasi diri dengan segala sesuatu berbau Jerman, paling tidak warna benderanya hitam-merah-kuning. Meski lahir di SMPN 2 Bandung, anggota GBR beragam. Bukan hanya siswa atau alumni sekolah itu saja, tapi kalangan umum lain.

Bibit anggota geng sepeda motor di Bandung dipupuk mulai usia belasan tahun, bahkan itu tadi, sejak mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Banyak sekolah-sekolah menjadi basis mereka. Seperti SMUN 7 terkenal sebagai sarangnya Brigez, SMU BPI sarangnya XTC dan SMP 2 tempat lahirnya GBR. Labelisasi geng motor terhadap sekolah tertentu mempengaruhi pilihan para calon siswa ketika menentukan sekolah mana yang akan mereka pilih. Siswa yang sudah memiliki keterikatan dengan geng tertentu semasa duduk di SMP, akan memilih SMU yang merupakan basis geng asalnya.

Sedangkan siswa yang netral justru akan menghindari sekolah-sekolah yang identik dengan geng. Bisa juga karena kehawatiran orang tua sehingga dimasukkan ke sekolah yang lebih bersih dari geng. Meski demikian banyak siswa dan orang tuanya yang tidak terpengaruh dengan isu ini.

Peran senior amat menentukan. Sekali saja ada anggota junior tidak kelihatan kumpul wajib setiap malam minggu, si senior akan menghajar sesuka hatinya, tak peduli alasan apapun. Kekerasan seolah mewakili spirit mereka. Mungkin juga mereka menganggap itu pilihan gaya hidup. Anggota senior, misalkan. Ia tidak cukup dengan berapa lama dia bergabung di geng itu, tapi butuh pembuktian bahwa orang itu berani melakukan hal yang paling beresiko sekalipun. Semakin tinggi resiko yang dia ambil, semakin tinggi pula penghormatan atas dirinya. Senior adalah kedudukan penting bagi geng. Seorang senior mempunyai keleluasaan dalam hal apapun. Ia juga mempunyai hak menentukan keputusan terhadap para junior. Kedudukan senior bahkan lebih tinggi di atas ketua geng. Senior bisa memutuskan salah atau benar dan menghukum junior dengan caranya sendiri.

-

Awalnya geng-geng motor ini berawal dari sekumpulan remaja yang hobi dengan motor dan beberapa dengan aksi ngebutnya. Namun makin lama sepak terjang dari beberapa geng motor ini semakin bringas. Tindakan geng motor yang mengarah ke premanisme inilah yang mencemaskan warga Bandung. Beberapa teman pernah menjadi korban dari tindakan geng motor ini. Beberapa dari aksi mereka mengarah ke tindakan kriminal, mulai dari menjambret sampai tawuran terhadap antara geng motor itu sendiri. Beberapa berita juga mengatakan geng motor yang terlibat tindak kriminal ini mengadakan penyerangan ke tempat umum seperti swalayan.

Yang lebih dicemaskan lagi geng motor ini beranggotakan remaja yang masih berada di tingkat pendidikan SMP dan SMA. Namun mereka sudah berani melakukan tindakan-tindakan yang bringas.

Posted in Tak Berkategori | 5 Comments »